At Tauhid edisi VII/30
Oleh: Raksaka Indra
Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah ta’ala,
bulan yang mulia dan agung beberapa hari lagi mendatangi kita. Di dalam
bulan Ramadhan itu pula, kita sebagai seorang muslim diwajibkan oleh
Allah dan Rasul-Nya untuk menunaikan puasa.
Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS.
Al Baqarah: 183). Maka wajib bagi seorang muslim mengetahui hal-hal yang
berkaitan dengan ibadah puasa, seperti syarat wajib puasa, syarat
syahnya puasa, rukun puasa, pembatal-pembatal puasa, dan lainnya. Dan
pada edisi ini, kami akan membahas mengenai syarat, rukun, dan pembatal
Puasa.
Syarat Wajib Puasa
Syarat dalam istilah Fiqih
adalah suatu yang harus ditepati sebelum mengerjakan sesuatu. Kalau
syarat-syarat sesuatu itu tidak sempurna maka pekerjaan itu tidak sah.
Maka syarat wajibnya puasa yaitu: islam, berakal, sudah baligh, dan mengetahui akan wajibnya puasa.
Syarat Wajibnya Penunaian Puasa
Yang dimaksud syarat wajib penunaian
puasa adalah ketika ia mendapati waktu tertentu, maka ia dikenakan
kewajiban puasa. Syarat yang dimaksud adalah sebagai berikut. (1) Sehat,
tidak dalam keadaan sakit. (2) Menetap, tidak dalam keadaan bersafar
(bepergian). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan
barangsiapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang
ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah:
185). Kedua syarat ini termasuk dalam syarat wajib penunaian puasa dan
bukan syarat sahnya puasa dan bukan syarat wajibnya qodho’
puasa. Karena syarat wajib penunaian puasa di sini gugur pada orang yang
sakit dan orang yang bersafar. Ketika mereka tidak berpuasa saat itu,
barulah mereka qodho’ berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun
jika mereka tetap berpuasa dalam keadaan demikian, puasa mereka tetap
sah. (3) Suci dari haidh dan nifas. Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya
bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang
haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah
menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku
bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami
dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’
puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat’.” (HR.
Muslim). Berdasarkan kesepakatan para ulama pula, wanita yang dalam
keadaan haidh dan nifas tidak wajib puasa dan wajib mengqodho’ (mengganti di hari lain) puasanya.
Syarat Sahnya Puasa
Syarat sahnya puasa ada dua, yaitu: (1)
Dalam keadaan suci dari haidh dan nifas. Syarat ini adalah syarat
terkena kewajiban puasa dan sekaligus syarat sahnya puasa. (2) Berniat.
Niat merupakan syarat sah puasa karena puasa adalah ibadah sedangkan
ibadah tidaklah sah kecuali dengan niat sebagaimana ibadah yang lain.
Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim). Niat puasa ini harus dilakukan untuk
membedakan dengan menahan lapar lainnya. Menahan lapar bisa jadi hanya
sekedar kebiasaan, dalam rangka diet, atau karena sakit sehingga harus
dibedakan dengan puasa yang merupakan ibadah.
Namun, para pembaca sekalian perlu
ketahui bahwasanya niat tersebut bukanlah diucapkan (dilafadzkan).
Karena yang dimaksud niat adalah kehendak untuk melakukan sesuatu dan
niat letaknya di hati. An Nawawi rahimahullah berkata,
“Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah
dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan. Masalah ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
menjelaskan, “Siapa saja yang menginginkan melakukan sesuatu, maka
secara pasti ia telah berniat. Semisal di hadapannya disodorkan makanan,
lalu ia punya keinginan untuk menyantapnya, maka ketika itu pasti ia
telah berniat. Demikian ketika ia ingin berkendaraan atau melakukan
perbuatan lainnya. Bahkan jika seseorang dibebani suatu amalan lantas
dikatakan tidak berniat, maka sungguh ini adalah pembebanan yang
mustahil dilakukan. Karena setiap orang yang hendak melakukan suatu
amalan yang disyariatkan atau tidak disyariatkan pasti ilmunya telah
mendahuluinya dalam hatinya, inilah yang namanya niat.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/262).
Wajib Berniat Sebelum Terbit Fajar
Dalilnya adalah hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Hafshoh –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa siapa yang tidak berniat sebelum fajar, maka puasanya tidak sah.” (HR.
Abu Dawud). Syarat ini adalah syarat puasa wajib menurut ulama
Malikiyah, Syafi’iyah dan Hambali. Yang dimaksud dengan berniat di
setiap malam adalah mulai dari tenggelam matahari hingga terbit fajar.
Adapun dalam puasa sunnah boleh berniat setelah terbit fajar menurut mayoritas ulama. Hal ini dapat dilihat dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalil masalah ini adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berikut ini. ‘Aisyah berkata, “Pada
suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku dan bertanya,
“Apakah kamu mempunyai makanan?” Kami menjawab, “Tidak ada.” Beliau
berkata, “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi
pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah
diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kurma, samin dan
keju).” Maka beliau pun berkata, “Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi
pagi tadi aku berpuasa.” (HR. Muslim). An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ini
adalah dalil bagi mayoritas ulama, bahwa boleh berniat di siang hari
sebelum waktu zawal (matahari bergeser ke barat) pada puasa sunnah”.
Di sini disyaratkan bolehnya niat puasa di siang hari yaitu belum
melakukan pembatal-pembatal puasa sebelum niat. Jika ia sudah melakukan
pembatal sebelum niat (di siang hari), maka puasanya tidak sah. Hal ini
tidak ada perselisihan di dalamnya.
Rukun Puasa
Yang dimaksud dengan rukun adalah suatu
yang harus dikerjakan dalam memulai suatu ibadah. Berdasarkan
kesepakatan para ulama, rukun puasa adalah menahan diri dari berbagai
pembatal puasa mulai dari terbit fajar (yaitu fajar shodiq) hingga terbenamnya matahari. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan
makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam,
yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187). Yang dimaksud “terang bagimu benang putih dari benang hitam” dari
ayat di atas adalah terangnya siang dan gelapnya malam dan bukan yang
dimaksud benang secara hakiki. (sebagaimana hadits ‘Adi bin Hatim, HR.
Tirmidzi, hasan-shahih).
Pembatal-pembatal Puasa
1. Makan dan minum dengan sengaja
Hal ini merupakan pembatal puasa
berdasarkan kesepakatan para ulama. Makan dan minum yang dimaksudkan
adalah dengan memasukkan apa saja ke dalam tubuh melalui mulut, baik
yang dimasukkan adalah sesuatu yang bermanfaat (roti dan makanan
lainnya), sesuatu yang membahayakan (khomr, rokok), atau sesuatu yang tidak ada nilai manfaatnya (potongan kayu, besi). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan
makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam,
yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187).
Jika orang yang berpuasa lupa, keliru, atau dipaksa, puasanya tidaklah batal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila
seseorang makan dan minum dalam keadaan lupa, hendaklah dia tetap
menyempurnakan puasanya karena Allah telah memberi dia makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Muntah dengan sengaja
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa
yang dipaksa muntah sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada
qodho’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib
baginya membayar qodho’.” (HR. Abu Dawud, shahih).
3. Haidh dan nifas
Apabila seorang wanita mengalami haidh
atau nifas di tengah-tengah berpuasa baik di awal atau akhir hari puasa,
puasanya batal. Apabila dia tetap berpuasa, puasanya tidaklah sah. Dari
Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah
kalau wanita tersebut haidh, dia tidak shalat dan juga tidak menunaikan
puasa?” Para wanita menjawab, “Betul.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, “Itulah kekurangan agama wanita.” (HR. Bukhari).
4. Keluarnya mani dengan sengaja
Artinya mani tersebut dikeluarkan dengan sengaja tanpa hubungan suami-istri (jima’) seperti mengeluarkan mani dengan tangan (onani) atau semisalnya. Hal ini menyebabkan puasanya batal dan wajib mengqodho’, tanpa menunaikan kafaroh. Inilah pendapat ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah. Dalil hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “(Allah ta’ala berfirman): ketika berpuasa ia meninggalkan makan, minum dan syahwat karena-Ku”
(HR. Bukhari). Mengeluarkan mani dengan sengaja termasuk syahwat,
sehingga termasuk pembatal puasa sebagaimana makan dan minum. (Syarhul Mumthi’, 3/52).
5. Berniat membatalkan puasa
Jika seseorang berniat membatalkan puasa
sedangkan ia dalam keadaan berpuasa. Jika telah bertekad bulat dengan
sengaja untuk membatalkan puasa dan dalam keadaan ingat sedang berpuasa,
maka puasanya batal, walaupun ketika itu ia tidak makan dan minum.
Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa berniat membatalkan puasa sedangkan ia dalam keadaan berpuasa, maka puasanya batal.” (Al Muhalla, 6/174). Ketika puasa batal dalam keadaan seperti ini, maka ia harus mengqodho’ puasanya di hari lainnya.
6. Jima’ (bersetubuh) di siang hari
Berjima’ dengan pasangan di siang hari pada bulan Ramadhan membatalkan puasa, wajib mengqodho’ dan menunaikan kafaroh.
Namun hal ini berlaku jika memenuhi dua syarat: (1) yang melakukan
adalah orang yang dikenai kewajiban untuk berpuasa, dan (2) bukan
termasuk orang yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa. Jika
seseorang termasuk orang yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa
seperti orang yang sakit dan sebenarnya ia berat untuk berpuasa namun
tetap nekad berpuasa, lalu ia menyetubuhi istrinya di siang hari, maka
ia hanya punya kewajiban qodho’ dan tidak ada kafaroh. (Syarhul Mumthi’, 3/68).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasulullah, celaka aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” Pria tadi juga menjawab, “Tidak”. Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,“Di mana orang yang bertanya tadi?” Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.” Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah
akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai
Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur
hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. ” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu.” (HR. Bukhari dan Muslim). [Raksaka Indra]
[Diringkas dari Buku “Panduan Ramadhan; Bekal Meraih Berkah Ramadhan” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.]
http://buletin.muslim.or.id/fiqih/syarat-rukun-dan-pembatal-puasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar